Perspektif Perayaan Tahun Baru Masehi

Tak terasa waktu terus berjalan hingga kita sampai di penghujung tahun 2012. Beberapa saat lagi tahun 2013 akan menjadi kenangan dan tahun 2013 akan kita jalani. Malam pergantian tahun baru masehi sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Tidak saja dibelahan bumi lain seperti di Eropa dan Amerika, masyarakat kita juga sibuk dan sangat menanti-nantikan malam pergantian tahun tersebut.

Berbeda halnya dengan pergantian tahun baru hijriah, banyak masyarakat yang tidak merayakannya, bahkan sekadar tahu saja mereka mungkin tidak. Memang perayaan tahun baru hijriah tidak dituntut untuk merayakannya dengan menyalakan kembang api, meniup terompet, ataupun kumpul di pusat kota dengan tujuan yang tidak jelas. Tetapi lebih kepada bagaimana memaknainya.
Kita lebih dituntut untuk merefleksikan apa yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya, dan diharapkan lebih baik pada tahun selanjutnya. Sungguh ironis, hal tersebut terjadi di bumi Aceh yang dijuluki Serambi Mekah karena mayoritas penduduknya beragama Islam.  Masyarakat lebih mengenal dan menantikan detik-detik pergantian tahun baru masehi.
Melihat fenomena tersebut, penulis merasa tergugah untuk sedikit mengupas sejarah dan pandangan Islam terhadap tahun baru masehi.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.

Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli).

Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Pada saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.

Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.

Pandangan Islam
Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”
Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-Zur” (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah). Menurut Ulama Tafsir, maksud al-Zur adalah perayaan-perayaan orang kafir (Ibn Kasir, 6/130). Jelas dari pada ayat ini Allah melarang kaum muslimin menghadiri perayaan kaum muyrikin.
Hadis Sahih al-Bukhari dan Muslim berikut ini, sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada perayaannya dan hari ini (Idul adha) adalah perayaan kita”. Oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud hadis tersebut bahwa dilarang melahirkan rasa gembira pada perayaan kaum musyrikin dan meniru mereka (dalam perayaan). (Fathul Bari, 3/371).
Dalam adat masyarakat Aceh yang identik dengan nilai-nilai Islam, dulu hanya merayakan peringatan hari besar Islam saja seperti perayaan maulid dan tahun baru hijriah yang malamnya dihiasi dan dihidupkan dengan dalail khairat di balee dan meunasah.
Melihat sejarah, pandangan Islam serta adat Islami dalam masyarakat Aceh, tidak ada celah sedikit pun bagi umat Islam untuk ikut merayakan atau sekadar untuk mengucapkan “Happy new years”. Pada kenyataannya, pada malam tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang “haram” untuk dilewatkan.
Sudah sepantasnya umat Islam menghidupkan kembali syiar-syiar Islam. Jika tidak tradisi Islam akan tergerus tanpa ada yang peduli. Toh, kita semua ini manusia yang harus taat dan menjunjung tinggi aturan Allah. Tidak ada alasan untuk menafikan syiar-syiar Islam. Pantaskah kita menenggelamkan syiar Islam dan menghidupkan syiar budaya Barat?

Sumber: Muftahuddin H. Lidan, Serambinews.

Advertisements
By Kaje Geer Posted in Budaya

Sifat-Sifat Negatif Sebagian Besar Orang Indonesia

Sifat-sifat negatif manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” adalah sebagai berikut :

  1. Hipokrit alias munafik.
    Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
  2. Segan dan enggan bertanggung jawab
    Atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.
    “Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.
  3. Berjiwa feodal.
    Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri Komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.
  4. Masih percaya takhyul
    Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.
  5. Artistik.
    Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinya, warna-warninya.
  6. Watak yang lemah.
    Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.
  7. Tidak hemat, dia bukan “economic animal”.
    Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.
  8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa.
    Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.
  9. Manusia Indonesia kini tukang menggerutu.
    Tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.
  10. Cepat cemburu dan dengki
    Terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.
  11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok.
    Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.
  12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru.
    Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Banyak yang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

    note : artikel dikutip sesuai aslinya (PM)

Sumber: http://forum.vivanews.com

By Kaje Geer Posted in Sosial

Perspektif Penulisan Sejarah

Untuk merespons adanya keprihatinan akan kenyataan semakin memudarnya kesadaran dan penghargaan masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai sejarah, baik pada tingkat nasional, maupun pada tingkat lokal (sejarah komunitasnya sendiri). Apa lagi pada saat yang bersamaan, arus globalisasi informasi dan proses demokratisasi semakin menuntut adanya pengakuan terhadap nilai-nilai lokal, sebagai salah satu referensi utama untuk mempertahankan integritas dan identitas sosial dalam kemasyarakatan, bahkan kebangsaan.

Kenyataan tersebut, pada tingkat tertentu semakin diperparah oleh lemahnya kemampuan lembaga pendidikan dan lembaga sosial kultural yang ada dalam merespons kebutuhan tersebut. Kebijakan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan peluang masuknya muatan lokal misalnya, sampai saat ini belum diikuti oleh tersedianya materi-materi pembelajaran muatan lokal yang dimaksud. Akibatnya, sampai saat ini lembaga pendidikan dari berbagai tingkatan belum bisa memaksimalkan kebijakan dan peluang tersebut untuk memberdayakan masyarakat dan potensi sosial kultural daerah setempat. Selain itu, dalam kaitannya dengan kesadaran historis, ada kecenderungan yang kuat dalam masyarakat Indonesia untuk mudah melupkan sejarah komunitasnya sendiri dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting. Hal itu juga terkait erat dengan tidak adanya budaya dokumentasi dalam kehidupan masyarakat, sehingga akhirnya dalam jangka panjang mereka kehilangan kontak dengan masa lalunya sendiri.

Dalam konteks permasalahan tersebut, upaya penulisan sejarah desa atau sejarah kampung sebagai bagian penting dari kajian sejarah lokal memiliki makna yang strategis. Selain sebagai sarana untuk mendokumentasikan beragam fase dan peristiwa penting dalam sejarah kehidupan masyarakat pada tingkat lokal, sejarah lokal juga akan memungkinkan terwujudnya ‘demokratisasi sejarah’ di mana masyarakat bisa memaknai beragam peristiwa sejarah baik di tingkat lokal maupun nasional dari sudut pandang mereka sendiri, dan yang lebih penting adalah bahwa inisiatif penulisan sejarah tersebut adalah berasal dari mereka ( history from below ). Selain itu, sejarah lokal juga dapat berperan penting bagi kehidupan masyarakat sebagai sarana untuk mendokumentasikan dan melestarikan beragam nilai-nilai historis lokal, tradisi, adat dan kebiasaan masyarakat setempat sehingga membantu upaya masyarakt untuk mengenal dan merevitalisasikan identits sosial kulturalnya.

Hasil penulisan Sejarah Lokal Pedesaan dan Kampung ini akan berguna bagi masyarakat desa yang ditulis, yaitu generasinya dan generasi sesudahnya.

Kedua, Kegiatan ini diharapkan akan dapat memperkaya khasanah kajian sejarah lokal yang dikembangkan Jurusan Sejarah, dan kemudian dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran, serta pengembangan kurikulum Jurusan Sejarah secara berkesinambungan, dalam hal ini Sejarah Pedesaan atau Kampung.

Sebagai sebuah kesepakatan bersama bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya sendiri, sejarah menjadi semacam tolak ukur kesuksesan di masa depan. Bangsa yang tidak pernah menoleh ke belakang, atau tidak mau mempertimbangkan masa lampau, tidak akan dapat mencapai dan menggapai tujuan di masa depan. Alasannya adalah karena sejarah merupakan saksi sekaligus bukti yang tidak saja menggambarkan realitas (kenyataan) dan kenangan-kenangan indah, tapi juga menyuguhkan kebenaran peristiwa yang bisa dijadikan pedoman hidup bagi masa kini, dan bahkan, bagi masa depan kelak.

Historia Magistra Vitae yang berarti sejarah adalah guru terbaik dalam kehidupan umat manusia jika ia mau benar-benar berguru kepadanya. Sejarah sarat akan nilai kehidupan yang tak ada pada aspek lain. Benar bahwa jika ada ungkapan, sejarah sebagai refleksi kehidupan manusia di masa lampau untuk masa kini dan masa depan. Aktualisasi masa lampau secara komprehensif mampu menghidupkan kembali semangat perjuangan dalam menegakkan cita-cita.

Kajian ilmu sejarah secara komprehensif berperan sebagai alat untuk mengorganisasikan seluruh tubuh pengetahuannya serta menstrukturisasi pikiran, yaitu metode sejarah. Dari pengertian bahwa sejarah sebagai cerita tentang peristiwa di masa lampau, yang mengungkapkan fakta-fakta mengenai apa, siapa, kapan, dan di mana, juga menerangkan bagaimana sesuatu telah terjadi. Aspek ini mengundang sisi psikis dari seorang sejarawan untuk melakukan rekonstruksi secara kontekstual analisis.

Apa Itu Sejarah ?

Sejarah adalah sebuah konsep yang bersifat universal tentang kehidupan manusia dalam dimensi waktu. Istilah sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan (Diambil dari wikipedia.org/definisi_sejarah.html). Kata Inggrisnya history atau sejarah yang berasal dari kata benda Yunani istoria yang artinya ilmu. Dalam penggunaannya oleh Aristoteles, istoria berarti suatu pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam. Secara umum definisi sejarah dari history adalah masa lampau umat manusia. dalam bahasa Jerman sejarah berarti Geschichte yang berasal dari kata geschehen yang artinya sudah terjadi. (Gottschalk, 2006: 33)

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, karangan W.J.S. Poerwadarminta disebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian berikut: sejarah sebagai silsilah atau asal usul, sejarah berarti kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, dan sejarah berarti ilmu; pengetahuan; cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut: jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita; cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita; dan ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan kejadian dan peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.

Dudung Abdurahman dalam bukunya, Metodologi Penelitian Sejarah, mengatakan bahwa pengertian yang lebih komprehensif tentang sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia. Definisi ini mengandung dua makna sekaligus, yaitu sejarah sebagai kisah atau cerita (history as story) dan sejarah sebagai peristiwa (history as event). Sejarah sebagai kisah atau history as story merupakan pengertian sebagai sesuatu yang bersifat subjektif, karena peristiwa masa lalu itu telah menjadi pengetahuan manusia. Sedangkan sejarah sebagai peristiwa atau history as event merupakan pengertian sejarah objektif, sebab peristiwa masa lampau itu sebagai kenyataan yang masih di luar pengetahuan manusia. (Dudung Abdurahman, 2007: 13)

Dari beberapa pengertian di atas, jelas bahwa sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu sosial yang memiliki peran dan fungsi sebagai aktualisator masa lampau di masa kini dengan cara berfikir historis (metode sejarah). Metode sejarah digunakan oleh sejarawan dalam memahami dan menyelidiki perubahan-perubahan manusia pada masa lampau dengan pendekatan-pendekatan tertentu.

Sejarah Sebagai Konstruk (Bangunan)

Peristiwa yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia pada dimensi waktu merupakan gerak sejarah yang secara apa adanya selalu terjadi dan berubah (dinamis). Dalam pengertiannya, sejarah telah memberikan gambaran tentang kehidupan manusia pada masa lampau yang bisa diubah oleh sejarawan sebagai penulis sejarah.

Menurut para filosof sejarah pengikut metode kontemplatif, terdapat tiga pola gerak di mana sejarah berjalan sesuai dengannya, yaitu:

Sejarah berjalan menelusuri garis lurus lewat jalan kemajuan yang mengarah ke depan atau kemunduran yang bergerak ke belakang.

Sejarah berjalan dalam daur kultural yang dilalui kemanusiaan, baik daur saling terputus, dan dalam berbagai kebudayaan yang tidak berkesinambungan atau daur-daur itu saling berjalin dan berulang kembali.

Gerak sejarah tidak selalu mempunyai pola-pola tertentu.

Para filosof sejarah sendiri sering mencampuradukkan ketiga pola ini dalam menginterpretasikan gerak sejarah yang mengandung unsur subjektivitas dari sejarawan. Subjektif merupakan unsur personal bias atau pandangan pribadi seorang sejarawan yang berimajinasi merekonstruksi peristiwa masa lampau dengan bertolak pada dokumen (docere atau mengajar)[1] yang valid dan otentik.

Dalam bukunya, Sartono Kartodirjo mengatakan sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk yang berarti sebuah bangunan yang disusun oleh penulis sejarah sebagai suatu uraian atau rangkaian cerita. Uraian atau rangkaian cerita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah baik proses maupun struktur.

Subjektivitas berangkat dari penalaran individu secara kontekstual. Dalam Metode Sejarah, Asas dan Proses (E. Kosim: 1983), disebutkan beberapa hal yang dapat menimbulkan subjektivitas dalam proses pengkajian peristiwa sejarah, yakni:

1) Pandangan pribadi (personal bias)

2) Prasangka kelompok (group prejudice)

3) Teori interpretasi yang bertentangan dan berbeda

Semua faktor tersebut adalah alasan mengapa dalam suatu penulisan sejarah muncul unsur subjektivitas. DR. Sulasman berpendapat mengenai hal ini, menurutnya dalam setiap penulisan sejarah (historiografi), pandangan yang beragam merupakan hal yang lumrah terjadi. Beliau memberikan contoh dalam karya para sejarawan lokal. Seperti dalam karya Prof. Mansur Suryanegara berjudul API SEJARAH, disebutkan bahwa subtansi mengenai penjelasan kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan para ulama dan santri. Berbeda halnya dengan pandangan Nugroho Notosutanto dalam Sejarah Nasional Indonesia jilid IV, beliau menjelaskan peran daripada tokoh nasional seperti M. Natsir, Bung Karno, Aa Maramis, Bung Hatta, dlsb.

Konteks ini bersifat subjektif dalam artian konstruk yang berbeda. Dari penjelasan mengenai mengapa adanya subjektivitas dalam kajian ilmu sejarah, kami melihat adanya unsur pandangan pribadi sang sejarawan, ilmu bantu yang digunakan, serta teori sejarah yang dipakai. Prof. Mansur sebagai seorang mubaligh, sejarawan muslim, dan tokoh pendidik, yang berlatar Islam sebagai pandangannya memiliki pandangan pribadi sebagaimana tertera di atas bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berangkat dari perjuangan kaum ulama dan santri.

Namun sebagai calon sejarawan kita tidak boleh menyalahkan/berspekulasi bahwa karya Ahmad Mansur Suryanegara dengan bukunya Api Sejarah yang pada inti penulisannya bahwa peran kaum ulama dan santri sangat sentral sekali dalam melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun kita pun tidak boleh menyalahkan bahwa karya Noegroho Poespo Negoro dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia jilid 1- 6 mengatakan bahwa lahirnya Negara Republik Indonesia tidak hanya kaum ulama dan santri saja, tetapi banyak pihak lain yang membantu dalam melahirkan Negara Indonesia. Menurut analisis kami dalam halnya masalah subjektivitas kita pun punya pandangan masing-masing dalam merekontruksi sebuah peristiwa sejarah.

Penjelasan Mengenai Subjektivitas dan Objektivitas Sejarah

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, sejarah adalah peristiwa yang dialami manusia dalam dimensi waktu. Pada umumnya pemakaian istilah sejarah untuk menunjuk pada cerita sejarah, pengetahuan sejarah, gambaran sejarah yang semuanya adalah sejarah dalam artian subjektif, disebut subjektif karena sejarah memuat unsur-unsur dan isi subjek.

Dalam bukunya, Prof. Sartono Kartodirjo mengatakan sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk yang berarti sebuah bangunan yang disusun oleh penulis sejarah sebagai suatu uraian atau rangkaian cerita. Uraian atau rangkaian cerita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah baik proses maupun struktur. (Sartono Kartodirjo, 1993:14).

Sedangkan, Ankersmit[2] dalam bukunya Refleksi tentang Sejarah menjelaskan tentang adanya alasan yang membela subjektifisme dan objektifisme sejarah, yaitu:

Alasan Subjektifisme

(a) Alasan Induksi

Penulisan sejarah selalu bersifat subjektif. Menurut G. Myrdal, bila telaah historis t1, t2, dan seterusnya bersifat subjektif, maka dengan cara induktif dapat disimpulkan bahwa telaah historis, baik masa silam, masa kini, dan masa depan, bersifat subjektif.  Namun, Myrdal menegaskan bahwa sejarawan harus menyadari nilai-nilai dalam penulisannya agar dengan demikian ia dapat mengesampingkan pengaruh nilai-nilai itu dalam penulisannya.

Pendapat ini dilawan oleh Negel, yang mengatakan, bahwa justru nilai-nilai yang mewarnai pandangan seorang sejarawan, tidak disadarinya, lalu bagaimana mungkin mengesampingkannya? Sering kita berpendapat, bahwa pendapat kita mengenani sesuatu itu terbebas dari nilai, padahal justru nilai itu yang dipermasalahkan.

(b) Alasan Relativisme

Untuk mendukung argumen ini, Ch. Beard dan J. Romein membedakan tiga hal, yakni:

(1)             Masa silam sendiri,

(2)             Bekas yang tertinggal dari masa silam, berwujud dokumen prasasti dan sebagainya

(3)             Penggambaran kita terhadap masa silam.

Peralihan dari (1) ke (2) sudah menjurus penulisan sejarah. tentu subjektif, karena sumber-sumber yang tersisa dari masa silam pada umumnya merupakan laporan-laporan yang ditulis oleh orang-orang pada zaman dulu. Dan pada peralihan dari (2) ke (3), tidak bisa disingkirkan. Terdapat tiga macam subjektifitas. Pertama, yang merupakan hasil dari kepribadian sejarawan sendiri. Kedua, unsur subjektifitas masih dapat dilacak lalu disingkirkan. Ketiga, subjektifitas waktu tidak dapat dieliminir.

Romein dan E.H. Carr mengatakan bahwa untuk mengatasi permasalahan tersebut, sejarawan harus mampu untuk mengatasi kerangka zamannya dengan menempatkan diri di masa mendatang, yaitu masyarakat tanpa kelas. Sehingga argumen ini mudah dipatahkan karena asumsi yang menopangnya berpangkal pada filsafat sejarah spekulatif[3] yang dapat disangksikan objektivitasnya. Rupanya Romein tetap mempertahankan konsepnya meskipun hal itu tidak rasional.

(c) Alasan bahasa

Bahwa dalam bahasa sendiri terdapat berbagai ungkapan yang mengandung penilaian, sehingga tulisan yang dihasilkan bisa bersifat subjektif. Namun L. Strauss justru berpendapat bahwa penilaian dan bahasa yang bermuatan penilaian justru penting dalam penulisan sejarah. Karena dengan bahasa yang mengandung penilaian itulah kejadian-kejadian yang “mendebarkan” dapat disusun.

Demikian juga bagi A.R. Louch yang mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah membangkitkan kembali masa silam (aktualisasi masa silam). Kata-kata seperti agresif, bersahabat, bermusuhan, dlsb, dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun kembali masa silam dalam konteks kekinian. Dengan kata-kata itu, muncul dalam diri kita satu perasaan yang sama dengan perasaan yang muncul dalam diri penulis ketika menuliskannya.

(d) Alasan Idealistis

Sebagaimana argumen dasarnya, bahwa kenyataan itu ada sejauh kita menyadarinya, kenyataan historis pun merupakan buah hasil dari budi manusia. Budi manusia adalah objek penelitian historis sekaligus juga subjek penelitian historis. Karena subjek dan objeknya sama, maka keduanya tidak dapat dipisahkan.

(e) Alasan Marxis

Bagi penganut paham ini, tidak mungkin bisa untuk memisahkan subjek dan objek. Pengetahuan selalu berakar dalam pergaulan kita dengan kenyataan. Kenyataan itu adalah kenyataan yang bereaksi terhadap sentuhan penelitian kita. Kenyataan sosial tidak akan muncul dalam bentuk rumusan sosiologis yang objektif, akan tetapi baru akan muncul ketika telah dirombak oleh seorang revolusioner. Karena objektivitas mengandaikan pemisahan antara subjek dan objek, maka ia tidak akan terjadi.

Alasan Objektivitas

Bagi pendukung argumen ini, perbedaan antara pengkajian sejarah dan sains hanya bersifat gradual dan tidak esensial, karena objektifitas dalam hasil penelitian sains jarang disangsikan (sifatnya mutlak-pasti), maka cenderung membela kemungkinan penulisan sejarah yang objektif.

(a) Memilih Objek Penelitian

Seorang sejarawan sudah bersifat subjektif ketika memilih objek bagi penelitian sejarahnya, karena pilihan itu ditentukan oleh kesukaan pribadi seorang sejarawan. Dalam memilih bahannya, seorang sejarawan mungkin didorong oleh pertimbangan subjektif, tetapi ini tidak berarti bahwa hasil penelitiannya juga bersifat subjektif, bisa juga bersifat objektif. Objektif dalam artian ini merupakan sebuah kenyataan historis dalam suatu peristiwa sejarah di masa lampau.

(b) “Wertung” dan “Wertbeziehung”

Seorang sejarawan selalu bersifat subjektif karena bahan yang ditelitinya ialah perbuatan manusia pada masa silam, yang selalu diresapi oleh nilai-nilai. Kita perlu membedakan antara wertbeziehung dan wertung. Yang pertama adalah pertalian dengan nilai-nilai, yang terjadi ketika kita menerangkan perbuatan seorang pelaku sejarah sambil menghubungkan perbuatan itu dengan nilai yang dianut pada masanya. Sedangkan yang kedua adalah penggambaran sejarawan tentang seorang pelaku sejarah yang sudah diilhami oleh nilai-nilai yang dianut oleh sejarawan itu sendiri.

 (c) Alasan Seleksi

Mengadakan seleksi berarti mengacaukan jalinan peristiwa yang terjadi dalam sejarah, padahal menurut faham subjektivisme, sejarah adalah ibarat kain tanpa jahitan yang bagian-bagiannya kait mengait. Oleh pendukung objektivisme, argumen ini ditolak karena meskipun penyajian oleh sejarawan tidak lengkap, tidak berarti ia tidak objektif. Sebuah peta tetap objektif meskipun tidak manampilkan hal-hal kecil secara detail. Namun, apakah sejarah sama dengan peta. Peta adalah benda mati yang tidak berubah bagian-bagiannya, sedangkan sejarah terdiri dari bagian-bagian yang saling memengaruhi satu sama lainnya, sifatnya dinamis, sehingga menampilkan salah satu bagian saja tidak akan mungkin menggambarkan kenyataannya yang sesungguhnya.

Adapun alasan subjektivistis yang mengatakan bahwa sejarawan berhenti pada satu titik dalam penelitiannya dan tidak melanjutkan ke titik-titik berikutnya, ditanggapi oleh kalangan objektivis dengan mengatakan bahwa penelusuran sampai masa paling awal tidak perlu, karena, misalnya, untuk mengetahui sebab-sebab Revolusi Perancis (1789) kita tidak harus melacak sebabnya. Sekali lagi, sejarah bukanlah aspek yang statis yang dapat diketahui dengan mudah pangkal dan ujungnya hanya dengan berspekulatif. Pertanyaanya, siapa yang dapat mengetahui dengan pasti bahwa suatu sebab kejadian sejarah berpangkal dari sebuah kejadian tertentu?

(d) Alasan Antiskeptisisme atau Relativisme

Sebenarnya para skeptisisme telah masuk dalam wilayah yang kontradiktif. Secara implisit, mereka masih mempertahankan kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan yang objektif, meskipun secara eksplisit menolaknya. Hal itu karena para skeptisis baru dapat mengatakan bahwa sebuah pengetahuan adalah subjektif kalau ia memiliki sandaran untuk mengukur bahwa pengetahuan itu memang subjektif. Dengan demikian, pengetahuan objektif itu tetap diandaikan.

Di samping itu, ia harus dapat membuktikan bahwa nilai-nilai mana yang memengaruhi seorang sejarawan. Dan bila nilai-nilai itu telah disingkirkan, maka objektivitas menjadi mungkin terjadi secara nyata.

Apakah dengan menyingkirkan nilai-nilai yang diketahui itu lantas membuat penelitian sejarah menjadi objektif? Nilai-nilai adalah sesuatu yang abstrak, yang melingkupi dan melampaui kita karena kita berada di dalamnya, sehingga tidak disadari. Sebagaimana pengertian struktur sebagai sebuah bangunan abstrak, ia hanya bisa dirasakan tanpa bisa dilihat secara fisik atau nyata.

(e) Alasan Sebab Musabab (Kausalitas)

Seorang sejarawan mungkin menggunakan penilaiannya, akan tetapi tidak berarti bahwa pendapat-pendapatnya langsung menunjuk pada benar atau salah. Kalau penilaiannya salah, jelas sejarah menjadi kacau. Dan kalaupun penilaiannya benar, bukankah terdapat banyak aspek dalam sejarah, dimana penilaian sejarawan tersebut sangat mungkin hanyalah salah satunya saja?

(f) Alasan Propaganda

A.I. Melden mengatakan bahwa jika nilai-nilai merupakan unsur pokok dalam pengetahuan historis, maka penulisan sejarah menjadi tidak dapat dibedakan lagi dari propaganda. Keduanya menjadi sama kerena hanya merupakan tindak bahasa yang ingin menyebarkan nilai-nilai tertentu. Padahal propaganda berbeda dengan tulisan sejarah, karena pembaca propaganda tidak terkesan oleh mutu ilmiahnya.

Di samping itu, propaganda bertujuan untuk mengalihkan nilai-nilai kepada orang yang belum memilikinya. Akan tetapi nilai-nilai dalam sejarah tidak diketahui oleh pembacanya, sehingga pengalihan nilai-nilai itu menjadi tidak mungkin. Dengan kata lain, nilai-nilai yang dianggap sebagai bagian pokok itu hanyalah kesimpulan belaka dalam sebuah penalaran, bukan unsur penting di dalalamnya.

Pada hakekatnya, penulisan sejarah memang tidak berbeda dengan propaganda, hanya saja yang terakhir sudah diketahui bahwa ia memang propaganda sehingga tidak dianggap ilmiah, sedangkan yang pertama, penulisan sejarah, belum diketahui kalau ia adalah propaganda, tetapi sudah diasumsikan begitu saja sebagai sejarah, sehingga dianggap ilmiah.

(g) Alasan Analogi

Pengkajian sejarah sama saja dengan pengetahuan eksakta, yang mungkin untuk mendapatkan objektivitas. Ada tolok ukur tertentu dalam menentukan objektivitas. Padahal dalam ilmu eksakta sendiri objektivitas masih diperdebatkan. Hukum gravitasi Newton, misalnya, dianggap kurang memadai sehingga munculah Einstein dengan hukum relativitasnya.

Subjektivitas dan Objektivitas, Satu Kesatuan Ilmu Sejarah

Louis Gottschalk dalam bukunya berjudul Understanding Histoy: A Primer of Historical Method menulis bahwa selain peninggalan benda dan situs–situs sejarah, kadang–kadang faktor sejarah di peroleh dari kesaksian dan karenanya merupakan fakta arti (facts of meaning). Fakta–fakta semacam ini tidak dapat dilihat, di rasakan, di kecap, di dengar, atau di cium baunya. Dapat dikatakan bahwa fakta–fakta itu merupakan lambang atau wakil dari pada sesuatu yang pernah nyata ada, tetapi fakta–fakta itu tidak memiliki kenyataan objektif sendiri.

Dengan perkataan lain, fakta–fakta itu hanya terdapat di dalam pikiran pengamat atau sejarawah karenya dapat di sebut “subjektif”. Untuk dapat di pelajari secara objektif dalam arti tidak memihak dan bebas dari reaksi pribadi harus punya eksistensi yang merdeka di luar pikiran manusia. Akan tetapi kenangan tidak mempumyai eksistensi di luar pikiran manusia sedangkan banyak sejarah didasarkan atas kenangan yakni kesaksian tertulis atau lisan.

Ada suatu prasangka kasar terhadap pengetahuan “subjektif” sebagai suatu yang lebih rendah dari pada pengetahuan “objektif”, sebagian besar karena kata “subjektif” telah memperoleh arti “khayalan”  atau boleh dikata didasarkan atas pertimbagan pribadi makanya tidak benar atau berat sebelah. Pengetahuan dapat diperoleh dengan jalan melakukan penyelidikan “imajinatif” yang tidak memihak. Memang sikap tidak memihak dan objektif mungkin sulit diproleh dan kesimpulan yang bedasakan subjektif lebih mudah dibantah.

Dalam penjelasan ini diketahui bahwa antara subjektivitas dan objektivitas merupakan satu kesatuan utuh yang terkandung dalam jiwa seorang sejarawan ketika menorehkan fakta historis ke dalam sebuah media tulis. Subjektivitas berangkat dari objektivitas yang objektivistik. Kenyataan yang terkandung dalam setiap fakta sejarah secara subtansial selalu diikuti oleh aspek subjektif sang sejarawan, hal ini merupakan suatu kesatuan antara pandangan pribadi atas satu peristiwa sejarah dan ilmu bantu yang ia gunakan, serta filsafat sejarah apa yang ia anut ketika memandang suatu peristiwa sejarah dalam konteks fakta historis.

Banyak ahli sejarah condong memandang fakta sebagai dasar pengkajian sejarah yang mutlak dan dapat diandalkan. Fakta dapat ditentukan dengan kepastian yang praktis, tak dapat disangsikan dan andaikata terjadi kesangsian, maka dalam praktek ini dapat dipecahkan. Kadang-kadang fakta juga kurang memadai untuk menentukan sebuah peristiwa, karena adanya berbagai alasan pendukung akan hal itu.

Persoalan mengenai subjektivitas, meskipun dirasakan sulit, merupakan masalah yang urgen sekali dalam menghadapi pertumbuhan historiografi. Masalah subjektivitas dan objektivitas segera muncul, misalnya begitu orang hendak bermaksud menyusun historiografi Indonesia modern (Poepoprodjo, 1987: 4).

Soedjatmoko menulis:

“Sesungguhnya, setiap pembicaraan tentang problema-problema interpretasi sejarah dan sintesis bahan-bahan sejarah menjadi suatu kisah yang berhubungan ke dalam historiografi Indonesia modern, menjuru kepada persoalan-persoalan tentang subjektivitas dan objektivitas”.

Prioritas, spontanitas, dan aktivitas subjek dalam proses tahu yang merupakan subjektivitas yang halal, dimutlakkan sebagai satu-satunya kenyataan dalam kegiatan ilmu. Maka munculah subjektivisme dan pandangan tentang kenyataan brsifat subjektivistik. Sifat subjektif yang memang halal dan selalu akan terdapat di dalam setiap bentuk tahu dicampurbaurkan dengan pandangan subjektivistik tentang kenyataan, dan akhirnya dibuang beramai-ramai bersama pandangan subjektivistik tentang kenyataan. Subjektivistik juga mempunyai arti ekuivokal.

Konsepsi subjektivisme jelas mengabaikan hakikat yang sebenarnya dari kegiatan tahu dan korelasi noematiknya. Dalam subjektivisme, objek tidak dinilai sebagaimana mestinya, tetapi dipandang sebagai sebuah kreasi, konstruksi akal budi. Sedangkan, objektivitas diperoleh hanya jika subjek dieliminasi dari kegiatan perjumpaan, yakni kegiatan tahu. Tetapi menyingkirkan subjek dari kegiatan perjumpaan berarti menghancurkan kegiatan tahu itu sendiri. Maka objektivitasnya akan berupa objektivisme, dan realitas-objektifnya adalah realitas-objektif.

Interpretasi Sebagai Jalan Subjektivitas Kajian Sejarah

Interpretasi merupakan salah satu bagian dari metode penelitian sejarah, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Interpretasi sejarah sering juga disebut dengan analisis sejarah (Dudung Abdurahman, 2007: 73). Dalam hal ini digunakan dua metode, yaitu analisis dan sintesis. Dalam pengertiannya, analisis adalah menguraikan, sedangkan sintesis berarti menyatukan. Keduanya merupakan metode utama di dalam interpretasi sejarah (Kuntowijoyo, 1995: 100).

Dalam proses interpretasi sejarah, penulis sejarah harus benar-benar bisa mencapai pengertian faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa sejarah di masa lampau. Sejarah sebagai sebuah kumpulan sebab-sebab mengandung banyak faktor penentu terjadinya pristiwa sejarah. Oleh sebab itu, interpretasi digunakan dengan membandingkan data yang ada guna menyingkap alasan mengapa terjadinya satu peristiwa sejarah di masa lampau.

Penafsiran atau interpretasi dilakukan terhadap sumber-sumber yang ditemukan. Dalam melakukan penafsiran, peneliti sejarah (sejarawan) melakukan analisis sesuai dengan fokus penelitiannya. Kajian sejarah yang bersifat ilmiah, dalam penafsiran biasanya menggunakan teori-teori dari ilmu-ilmu sosial. Dengan cara seperti ini, diharapkan penulisan sejarah akan lebih objektif dalam batas keilmiahannya. Walau demikian, penafsiran dalam sejarah tidak bisa terlepas sama sekali dari unsur subjektivitas penulisnya. Subjektivitas terjadi disebabkan penulis sejarah memiliki pandangan tersendiri terhadap sumber yang ia temukan. Bahkan data yang sama tidak menutup kemungkinan menimbulkan interpretasi yang berbeda. Apabila hal ini terjadi, dalam penelitian sejarah sah-sah saja dan dibenarkan, asalkan peneliti menggunakan sumber yang valid.

Pernyataan historis ialah pernyataan mengenai fakta-fakta historis atau seperti juga bisa dikatakan sebagai keadaan pada masa silam. Masa silam adalah keseluruhan keadaan itu. Bukan sebagai pernyataan mengenai keadaan itu. Jelasnya, peristiwa historis bersifat faktual bukan tekstual. Sebagaimana dikatakan F.R. Ankersmit[4], “proses generalisasi tidak dapat menampilkan kebenaran realitas sosio-historis; generalisasi hanya merefleksikan kecenderungan kita untuk mengonsepsi realitas dengan pola regularitas” (Ankersmit, 1983: 160).

Penulisan sejarah merupakan bentuk dan proses pengisahan atas peristiwa-peristiwa masa lalu umat manusia. Pengisahan sejarah itu jelas sebagai suatu kenyataan subjektif, karena setiap pribadi atau setiap generasi dapat mengarahkan sudut pandangnya terhadap apa yang telah terjadi itu dengan berbagai interpretasi yang erat kaitannya dengan sikap hidup, pendekatan (ilmu bantu), atau orientasinya. Oleh karena itu, perbedaan pandangan terhadap masa lalu, yang pada dasarnya adalah objektif dan absolut, pada gilirannya akan menjadi suatu kenyataan yang relatif (subjektif). (Dudung Abdurahman, 2007: 16).

Sebagai contoh, perang di zaman Nabi Muhammad Saw, misalnya, adalah peristiwa yang telah berlalu dan pelakunya sudah tiada, akan tetapi para penulis sejarah kemudian bisa saja menafsirkannya sebagai perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah), bentuk ekspansi Islam atau perluasan wilayah Islam, pola dakwah, dan sebagainya. (Dudung Abdurahman, 2007: 17)

Menegaskan kembali, bahwa, setiap telaah historis–baik dari masa silam, masa kini, atau masa depan—selalu bersifat subjektif (relatif). Menurut FR. Ankersmit (1984)[5], alasan induksi juga tampak pada tataran relativisme historis, terutama yang disebabkan oleh kepribadian sang sejarawan sendiri dalam memberikan penilaian dan sifat bahasa yang dipakainya. Demikian juga dalam penalaran sejarawan yang menganut faham Marxis, tentu saja akan berbeda dengan jalan pikiran seorang yang idealistis.

Kenyataannya, bagi kaum idealis, fakta historis itu merupakan buah hasil dari budi manusia. sedangkan bagi kaum Marxis, pengetahuan sejarawan selalu berakar dari pergaulannya dengan kenyataan. Jadi, bagi keduanya subjektivitas seorang sejarawan tak bisa terelakkan. (FR. Ankersmit, 1987: 331-336)

Peristiwa yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia pada dimensi waktu merupakan gerak sejarah yang secara apa adanya selalu terjadi dan berubah (dinamis). Dalam pengertiannya, sejarah telah memberikan gambaran tentang kehidupan manusia pada masa lampau yang bisa diubah oleh sejarawan sebagai penulis sejarah.

Dalam bukunya, Prof. Sartono Kartodirjo mengatakan sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk yang berarti sebuah bangunan yang disusun oleh penulis sejarah sebagai suatu uraian atau rangkaian cerita. Uraian atau rangkaian cerita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah baik proses maupun struktur. (Sartono Kartodirjo, 1993:14).

Dalam kehidupan sehari-hari, subjek (manusia) tidak dapat hidup dalam suatu kekosongan (vacum), seluruh kesadarannya terendam dalam suatu kultur dalam segala aspeknya. Lingkungan fisik, biologis, ekonomis, politik, dan religious, semuanya mempengaruhi pada diri si subjek. Dalam kehidupan sehari-hari pula manusia dihadapkan pada suatu objek dengan sikap, anggapan, pandangan dan pendapat tertentu, positif atau negatif; jadi subjektif. Bentuk yang paling ekstrem yaitu apabila memandang segala sesuatu hanya berdasarkan atas ukuran hitam dan putih, yaitu sebagai kontras tajam, sehingga tidak ada variasi diantara kedua warna itu.

Kecenderungan untuk menilai seperti itu sering berdasarkan soal senang / tidak senang bagi pribadi (subjek), suatu unsur subjektivitas yang sering menjurus pada radikalisme atau fanatisme. (Sartono Kartodirdjo, 1992: 63)

Hal inilah yang paling ditakuti dalam proses penafsiran atas data dan fakta sejarah. Timbulnya fanatisme kelompok bisa mengakibatkan distori sejarah, penyelewengan sejarah yang sesungguhnya. Pengkaburan nilai-nilai historis berdasarkan pada radikalisme sejarawan dalam menilai suatu data hanya dengan pandangan hitam dan putihnya saja. Perlunya profesionalitas dan kredibilitas sejarawan menentukan nilai historis dari suatu peristiwa sejarah. Oleh karena itu, memang sangat dibutuhkan pendekatan-pendekatan sebagai tolak ukur untuk menghindari subjektivitas yang terlalu berlebihan.

Sebagaimana kita yakini bahwa dalam tatanan masyarakat tradisional, yang menonjol adalah aspek etnosentrismenya, yaitu bagaimana mereka memandang sejarah dan dunia luar dari titik pusat bangsanya sendiri (etnhos) beserta kebudayaannya. Ini disebut juga dengan istilah subjektivitas kultural. Sebenarnya subjektivitas kultural telah mencakup subjektivitas waktu atau zaman oleh karena kebudayaan bereksistensi dalam waktu tertentu. Dalam banyak karya sejarah, subjektivitas zaman memiliki istilah penyebutannya tersendiri, bahkan sering pula kita dengan istilah jiwa zaman atau Zeitgeist. Pengertian yang abstrak ini merujuk pada pengertian mental yang dominan pada suatu waktu.

Sartono Kartodirdjo secara umum membagi subjektivitas menjadi dua, yakni subjektivitas kultural atau etnosentrisme dan subjektivitas waktu atau zaman. Keduanya sulit dihindari dan bahkan kebanyakan orang tidak menyadari akan hal itu. Subjektivitas waktu akan sangat sulit untuk diatasi terutama dalam menggarap sejarah kontemporer  (Sartono Kartodirdjo, 1962: 64).

Penafsiran sumber pada dasarnya merupakan langkah yang kita lakukan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari topik yang hendak kita teliti. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, maka kita mencoba menguraikan data-data atau sumber-sumber yang sudah kita pilih atau seleksi. Misalnya, tema penelitian Perubahan Sosial Desa Tahun 1950-1955. Dengan tema ini, maka kita akan menguraikan (sintesis) berbagai sumber yang menunjukkan adanya perubahan sosial. Sumber-sumber atau data-data yang diuraikan misalnya adanya laporan tentang jumlah orang-orang yang sekolah, jenis-jenis sekolah yang dimasuki, jenis-jenis pekerjaan penduduk dan jumlah pendapatannya, jumlah luas tanah di desa, adanya catatan tentang transaksi pembelian hasil-hasil pertanian oleh petani dengan pedagang yang berasal dari kota, catatan rapat di desa dan kecamatan tentang penyuluhan pertanian yang akan dilakukan oleh petugas pertanian kepada petani di desa, dan laporan dari desa tentang program pengembangan pertanian.

Bagaimanakah penulis sejarah atau sejarawan memberikan penafsiran berdasarkan contoh sumber-sumber yang ditemukan tersebut? Sumber-sumber tersebut harus dihubungkan antara yang satu dengan yang lainnya, terutama bisa dihubungkan dalam konteks hubungan sebab akibat (kausalitas) atau adanya hubungan yang sangat signifikan.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, sejarawan bisa memberikan penafsiran bahwa di desa itu pada tahun 1950-1955 terjadi perubahan sosial. Bagaimana perubahan sosial itu bisa dilihat? Perubahan sosial itu bisa dilihat, misalnya dengan semakin banyaknya atau meningkatnya jumlah anak-anak yang sekolah di desa itu, semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat desa. Pertanyaan berikutnya ialah bagaimana bisa terjadi peningkatan jumlah anak yang sekolah dan meningkatnya jenjang pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini bisa dihubungkan dengan menafsirkan sumber yang menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada masyarakat petani. Faktor penyebab meningkatnya pendapatan petani bisa disebabkan oleh peningkatan produksi pertanian.

Dalam memberikan penafsiran, biasanya sejarawan akan melihat berbagai faktor yang menjadi faktor penentu perubahan. Secara garis besar, faktor penentu perubahan dalam sejarah dapat ditentukan oleh manusia sendiri dan faktor di luar manusia. Faktor di luar manusia misalnya lingkungan fisik atau alam di mana manusia itu hidup, seperti iklim, tanah, dan sumber-sumber daya alam lainnya.

Interpretasi sejarah dengan melihat manusia sebagai faktor penentu perubahan dalam sejarah, bisa dilihat dari manusia sebagai individu (subjek) maupun manusia sebagai kelompok atau masyarakat.  Manusia sebagai kelompok dapat ditinjau dari manusia sebagai sebuah masyarakat. Masyarakat dalam pengertian di sini bisa didefinisikan sebagai sekumpulan individu yang terintegrasi dalam suatu struktur. Interpretasi dalam pendekatan ini dilakukan dengan melihat perubahan masyarakat secara struktur. Misalnya dengan tema penulisan sejarah Perubahan Sosial Desa 1950-1955, perubahan struktur yang terjadi yaitu dari struktur masyarakat yang tadinya berprofesi sebagai petani kemudian berubah menjadi buruh perkotaan.

Interpretasi sejarah dengan melihat lingkungan fisik atau alam sebagai faktor penentu dalam sejarah dapat berupa interpretasi geografis. Dalam interpretasi model ini, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh faktor geografis. Model seperti ini misalnya sejarah timbulnya peradaban-peradaban atau kerajaan-kerajaan kuno.

Peradaban-peradaban kuno yang lahir banyak terletak di tepian sungai, seperti peradaban Lembah Sungai Indus di India, peradaban Cina di Lembah Sungai Huang Ho, peradaban Lembah Sungai Nil di Mesir, dan peradaban-peradaban lainnya. Mengapa peradaban-peradaban itu selalu terletak di tepi sungai? Dengan interpretasi geografis, dapat dikatakan bahwa sungai pada waktu itu merupakan sumber kehidupan dan tempat lalu lintas, karena pada saat itu belum ada kendaraan darat yang bermesin seperti sekarang ini. Kehidupan manusia masih banyak tergantung pada faktor alam. Pada daerah-daerah sungai yang demikian, akan muncul sebuah masyarakat manusia.

Dengan demikian, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh faktor geografis. Selain interpretasi geografis, terdapat pula interpretasi ekonomi. Interpretasi ekonomi artinya bahwa faktor ekonomi sangat menentukan perubahan dalam sejarah atau kehidupan manusia. Sejarah perang misalnya, tidak hanya dilihat dari faktor politik atau peran sentral individu atau tokoh. Sebuah perang dapat pula terjadi lebih disebabkan oleh faktor ekonomi. Misalnya perang itu terjadi disebabkan oleh adanya perebutan dari kedua negara terhadap sumber-sumber daya alam. Kedua negara itu ingin menguasainya. Bahkan penjajahan atau imperialisme bisa dilihat dari perspektif ekonomi. Negara-negara Barat melakukan penjajahan terhadap bangsa-bangsa Asia Afrika pada abad ke-19, lebih disebabkan oleh adanya keinginan bangsa-bangsa Barat menguasai sumber-sumber daya alam.

Inilah penjelasan tentang adanya konsep subjektivitas dalam ilmu sejarah. Berawal dari interpretasi yang selanjutnya menghasilkan aspek relativisme historis atau lebih dikenal dengan sebutan subjektivitas. Subjektivitas dalam interpretasi sejarah mungkin terjadi, karena seorang penulis sejarah atau sejarawan memiliki kewenangan untuk memberikan interpretasi terhadap sumber-sumber atau fakta-fakta yang telah ditemukannya. Walaupun demikian, seorang sejarawan harus berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari subjektivitas yang berlebih-lebihan, apalagi kepentingan pribadi atau golongannya yang mewarnai interpretasinya.

Cara yang dilakukan untuk menghindari subjektivitas yaitu dengan menggunakan pendekatan-pendekatan  tertentu yang bersifat ilmiah atau menggunakan konsep-konsep atau teoriteori, dalam menginterpretasikan sumber yang ditemukannya. Dengan cara seperti ini, diharapkan interpretasi sejarah akan lebih objektif. Karena pada dasarnya setiap hasil penulisan sejarah itu dapat pula diperoleh hal-hal yang sifatnya objektif, yakni fakta-fakta keras atau tidak diragukan lagi kesahihannya (Alfian, 1984: 6). Seperti fakta keras dalam penyerbuan bangsa Mongol terhadap ibu kota Baghdad pada tahun 1258 M yang mendukung objektivitas.

Aktualitas dan Objektivitas, Sebuah Persamaan

Sebagai sebuah hasil interpretasi dan juga penulisan individu sang sejarawan, sebuah peristiwa sejarah bersifat subjektif (relatif). Kecenderungan pribadi menjadi pangkal dari adanya subjektivitas, tetapi ia tidak selalu menjadi penghalang bagi lahirnya objektivitas (absolutism historis) (Walsh, 1967).

Lebih lanjut Walsh menyatakan bahwa pengetahuan sejarah yang objektif itu justru timbul dari perbedaan pendapat kalangan sejarawan. Pernyataan mereka yang berbeda mengenai peristiwa sejarah yang sama belumlah merupakan perbedaan pendapat, sebab peristiwa sejarah itu bisa dilihat dari berbagai persfektif (Ankersmit, 1987: 343).

Dengan demikian, seorang sejarawan bisa menulis sejarah Pemberontakan Cimareme 1919 misalnya, dengan memperhatikan faktor-faktor ekonomis, tetapi sejarawan lainnya dapat menyoroti latar belakang sosial atau budayanya, politik, aspek religi, dan juga aspek psikologi. Kajian ini saling melengkapi sehingga pada akhirnya akan tercapai suatu objektivitas sejarah. (Dudung Abdurahman, 2007: 20).

Berbeda halnya dengan konsep objektivitas dalam kajian ilmu sejarah. Dalam bukunya, Prof. Sartono Kartodirjo mengatakan bahwa sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk yang berarti sebuah bangunan yang disusun oleh penulis sejarah sebagai suatu uraian atau rangkaian cerita. Uraian atau rangkaian cerita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah baik proses maupun struktur. (Sartono Kartodirjo, 1993:14).

Aktualitas menjadi sebuah karakteristik dari aspek objektivitas sejarah yang objektivistik. Sebagaimana diketahui mengenai objek kajian sejarah yang sifatnya absolute, berbagai penjelasan mengenai satu permasalahan sejarah, mengkaji faktor-faktor pendukung timbulnya peristiwa sejarah, akan ditemukan sisi objektif yang realistik. Inilah persamaan aktualitas dan objektivitas yang berafiliasi dengan aspek subjektivitas sang sejarawan.

Kesimpulan

Pada bagian ini perlu kiranya kami ulas kembali penjelasan mengenai subjektivitas dan objektivitas dalam kajian ilmu sejarah. Pandangan subjektivistik dan objektivistik bukanlah sesuatu hal yang dapat dihindari oleh para sejarawan. Ia adalah satu kesatuan utuh dalam setiap kajian sejarah sebagai sebuah kisah (history as story).

Pada umumnya para ahli sejarah sepakat, bahwa penulisan sejarah yang objktif sedapat mungkin harus diusahakan. Persoalan mengenai subjektivitas, meskipun dirasakan sulit, merupakan masalah yang urgen sekali dalam menghadapi pertumbuhan historiografi. Masalah subjektivitas dan objektivitas segera muncul, misalnya begitu orang hendak bermaksud menyusun historiografi Indonesia modern (Poepoprodjo, 1987: 4).

Subjektivitas dan objektivitas merupakan satu kesatuan utuh yang terkandung dalam jiwa seorang sejarawan ketika menorehkan fakta historis ke dalam sebuah media tulis. Subjektivitas berangkat dari objektivitas yang objektivistik. Kenyataan yang terkandung dalam setiap fakta sejarah secara subtansial selalu diikuti oleh aspek subjektif sang sejarawan, hal ini merupakan suatu kesatuan antara pandangan pribadi atas satu peristiwa sejarah dan ilmu bantu yang ia gunakan, serta filsafat sejarah apa yang ia anut ketika memandang suatu peristiwa sejarah dalam konteks fakta historis.

Sekilas Biografi Steve Jobs

Steven Paul Jobs lahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, 24 Februari 1955 adalah pemimpin perusahaan Apple Computer bersama Steve Wozniak dan tokoh utama di industri komputer. Sebagai pendiri (dengan Steve Wozniak) Apple Computer di tahun 1976, ia mempopulerkan konsep komputer di rumah tangga dengan Apple II. Kemudian, ia merupakan salah satu orang yang pertama kali menyadari potensi untuk mengomersialkan antarmuka pengguna grafis (graphical user interface) dan mouse yang dikembangkan di Palo Alto Research Center perusahaan Xerox, dan kemudian teknologi ini diterapkannya ke dalam Apple Macintosh.

Jobs juga memimpin Pixar Animation Studios, sebuah perusahaan komputer animasi terkemuka di dunia layar lebar. telah menjadi multi-jutawan sebelum berumur 30 tahun. Dimulai dengan perusahaan NeXT untuk membuat sistem pendidikan dengan harga yang terjangkau, menemukan bahwa menjual software lebih baik dari pada menjual hardware.

Dilahirkan di San Fransisco oleh ibunya Joanne Simpson dan ayahnya Abdulfattah Jandali mahasiswa tamu dari Syria yang kemudian menjadi profesor ilmu politik. Sejak bayi beliau diadopsi Paul dan Clara Jobs dari Mountain View,Santa Clara County California. Orang tua angkat inilah yang memberikan nama Steven Jobs. Orang tua biologisnya kelak menikah dan memberinya adik perempuan bernama Mona Simpson yang kini terkenal sebagai novelis.

Beliau melewati masa SMP dan SMU di Curpetino, Califonia, seringkali setelah jam sekolah mengajar di Hewlett Packard Company di Palo Alto, California. Maka tak heran segera setelah itu ia dan Steve Wozniak segera menjadi pekerja paruh waktu di perusahaan ini. Di tahun 1972, Jobs lulus dari SMA Homestead di Cupertino, California dan diterima di Reed College di Portland, Oregon, tapi dikeluarkan/ drop out setelah satu semester. Tapi ia segera mendaftar ke Reed College, salah satu hal yang dipelajari di sini kaligrafi. “Jika saya tak pernah dikeluarkan dari tempat belajar hanya satu semester mungkin Mac saat ini tak akan memiliki multiple typefaces atau font-font yang proposional,” katanya.

Di musim gugur tahun 1974, Jobs kembali ke California dan mulai menghadiri pertemuan “Homebrew Computer Club” dengan Steve Wozniak. Dia dan Wozniak bersama bekerja di Atari Inc., sebuah perusahaan pembuat permainan komputer yang terkenal, dengan jabatan sebagai perancang permainannya. Motivasinya saat itu adalah mengumpulkan uang untuk melakukan perjalanan spiritual ke India.

Jobs kemudian melakukan perjalanan pencerahan spritual ke India bersama temannya di Reed College, Daniel Kottke, yang kemudian hari menjadi pegawai Apple yang pertama. Kembali dari India dia menjadi Buddhist dengan rambut dicukur/gundul dan mengenakan pakaian tradisional India (biksu?). Selama masa ini ia mempraktekkan psychedelics (semacam meditasi, saat itu Jobs sering dianggap aneh, karena berjalan telanjang kaki di atas Salju- ini semacam meditasi kesadaran). Ini adalah dua atau tiga hal yang paling penting dalam hidup yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.

Di tahun 1976, Jobs, usia 21, dan Wozniak, 26, mendirikan Apple Computer Co. di garasi milik keluarga Jobs. Komputer pribadi yang diperkenalkan Jobs and Wozniak diberi name Apple I. Komputer itu dijual dengan harga AS$666.66, sebagai referensi terhadap nomor telpon dari Wozniak’s Dial-A-Joke machine, yang berakhir dengan -6666.

Di tahun 1977, Jobs dan Wozniak memperkenalkan Apple II, yang menjadi sukses besar di pasaran rumah tangga dan memberi Apple pengaruh besar di industri komputer pribadi yang masih muda. Di tahun 1980, Apple Computer mencatatkan namanya di bursa efek, dan dengan penawaran saham awal yang sukses, ketenaran Jobs bertambah. Tahun itu juga, Apple Computer melepas Apple III, walaupun kesuksesannya tidak sebaik sebelumnya.

Seiring dengan berkembangnya Apple Computer, perusahaan itu mulai mencari kepemimpinan baru untuk membantu mengatur perkembangan perusahaan tersebut. Di tahun 1983, Jobs menggaet John Sculley, dari perusahaan Pepsi-Cola, untuk memimpin Apple Computer, dengan tantangan, “Apakah kamu mau menjual minuman berkarbon seumur hidupmu, atau maukah kamu mengubah dunia?” (Do you want to just sell sugared water for the rest of your life, or do you want to change the world?) Tahun itu juga, Apple juga mengeluarkan Apple Lisa yang teknologinya tergolong sangat maju pada saat itu tapi gagal meraih pembeli di pangsa pasar.

Tahun 1984 menjadi tahun pengenalan Macintosh, komputer pertama yang berhasil dijual ke pasaran dengan menghadirkan fitur antarmuka pengguna grafis. Pengembangan Mac dicetuskan oleh Jef Raskin dan tim tersebut menggunakan teknologi yang sudah dikembangkan bukan oleh Apple, seperti di Xerox’s PARC, tetapi belum sempat dikomersialkan. Kesuksesan Macintosh membuat Apple menelantarkan Apple II demi mengembangkan produksi Mac, yang bertahan sampai saat ini.

Walaupun Jobs sangat persuasif dan karismatik bagi Apple, Banyak yang menganggap dia sebagai pemimpin yang gampang berubah pikiran dan beremosi tinggi. Di tahun 1985, setelah banyak menyebabkan masalah kepemimpinan di dalam Apple, Sculley memberhentikan Jobs dari jabatannya dan mengusirnya dari Apple.

Setelah keluar dari Apple, Jobs mendirikan sebuah perusahaan komputer lagi, NeXT Computer yang seperti Lisa, NeXT tergolong sangat maju dalam hal teknologi, tetapi tidak pernah menjadi terkenal, kecuali di lingkup riset sains. (Tim Berners-Lee mengembangkan sistem World Wide Web di CERN dengan menggunakan sebuah NeXT workstation.) Namun NeXT membantu memajukan teknologi-teknologi sepert program object-oriented, PostScript, dan perangkat magneto-optical.

Di tahun 1996, Apple membeli NeXT seharga AS$402 juta, dan membawa Jobs kembali ke perusahaan yang ia dirikan. Di tahun 1997 ia menjadi pemimpin sementara di Apple setelah kepergian Gil Amelio.

Dengan pembelian NeXT, banyak teknologi dari NeXT diterapkan ke dalam produk buatan Apple, terutama NeXTSTEP, yang berkembang menjadi Mac OS X. Dibawah bimbingan Jobs perusahaan tersebut meningkatkan penjualannya setelah memperkenalkan iMac. iMac merupakan komputer pertama yang dijual dengan mengutamakan penampilannya (walaupun iMac juga banyak menggunakan teknologi maju di dalamnya). Sejak saat itu, penampilan yang menarik dan merek yang terkenal telah memberikan keuntungan bagi Apple.

Belakangan ini, Apple mulai mengembangkan sayapnya. Dengan pengenalan iPod alat musik portabel, piranti lunak iTunes, dan iTunes Music Store, perusahaan tersebut melakukan gebrakan di bidang peralatan elektronik pribadi dan musik online. Sambil merangsang inovasi, Jobs juga mengingatkan bawahannya bahwa, “artis tulen membuahkan hasil,” (real artists ship) yang maksudnya adalah, menghasilkan karya-karya dengan tepat waktu sama pentingnya dengan inovasi dan produk jitu.

Jobs bekerja di Apple selama beberapa tahun dengan gaji AS$1/tahun. Karenanya dia tercatat di buku Guinness World Records sebagai “pemimpin perusahaan dengan gaji terendah” (Lowest Paid Chief Executive Officer). Setelah Apple mulai meraih laba penjualan kembali, perusahaan tersebut melepaskan gelarnya sebagai pemimpin sementara. Saat ini penghasilannya di Apple adalah AS$219 juta, menurut sebuah artikel yang ditulis di situs Bloomberg di tahun 2003.

Jobs sangat dikagumi karena keahliannya untuk meyakinkan orang dan menjadi salesman unggul, yang sering dijuluki reality distortion field dan hal ini tampak nyata saat ia memberikan keynote speeches di Apple expos. Namun, kegigihannya juga pernah mengundang sial. Kekerasan kepalanya mungkin telah menyebabkan Apple kehilangan kesempatan emas untuk menjadi pemimpin di bidang komputer pribadi. Keenganannya untuk membiarkan perusahaan lain membuat komputer yang kompatible dengan Macintosh mengakibatkan Apple harus menelan kekalahan dalam merebut pengguna komputer yang ada. Perusahaan piranti keras dan lunak akhirnya memutuskan untuk mengadopsi platform IBM PC yang menggunakan sistem operasi buatan Microsoft. Microsoft kemudian juga mengejar ketinggalannya dari Apple dengan mengembangkan antarmuka pengguna grafis buatan mereka sendiri, Microsoft Windows.

Di tahun 1986 Jobs mendirikan (bersama Edwin Catmull) Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Perusahaan itu didirikan dari apa yang dahulunya divisi grafik komputer milik Lucasfilm, yang Jobs beli dari pendirinya, George Lucas, sebesar AS$10 juta. Satu dekade kemudian, Pixar berkembang menjadi terkenal dan berhasil dengan film terobosannya Toy Story. Sejak saat itu Pixar sudah membuahkan film-film yang memenangkan Academy Award yaitu Finding Nemo dan The Incredibles. Karena kepemimpinannya di Pixar dan juga kemapanannya di Apple, Jobs dianggap oleh banyak pengamat industri hiburan salah satu calon pengganti Michael Eisner sebagai pemimpin dari The Walt Disney Company, yang mendistribusikan dan mendanai film-film buatan Pixar.

Pada tanggal 25 agustus 2011, Pendiri sekaligus presiden (CEO) Apple Inc,, Steven Paul Jobs akhirnya resmi memutuskan untuk mengundurkan diri. Tetapi dirinya masih dikenang oleh masyarakat dunia karena karya – karyanya. Mulai tahun 1976 ia mengeluarkan Apples l. Karya – karyanya terus berkembang sampai terakhir tahun 2010 ia mengeluarkan iPad yang sempat menghebohkan dunia.

Steve Jobs meninggal pada usia 56 tahun. Setelah bergulat dengan kanker pangkreas yang telah mengerogoti tubuhnya selama beberapa tahun terakhir. Berita “Steve Jobs meninggal” ini diumumkan oleh pimpinan Apple pada rabu malam 5 Oktober 2011. Ikon Lembah Silikon ini dikenang atas jasanya menghibur dunia dengan iPod iPhone dan yang terakhir adalah iPad. Agustus lalu, dia baru saja menyerahkan posisi CEO kepada Tim Cook. Steve Jobs sendiri dikenal sebagai legenda di Apple bahkan bisa dibilang maestro teknologi yang paling inovatif abad ini. Slamat jalan sang maestro

Berikut Karya – karya Steve Jobs saat masih memimpin CEO Apple Inc

1. Apple l (1976). Apple l ini merupakan produk pertama dari CEO Apple Inc buatan Steve dan diluncurkan pada tahun 1976.

2. Apple ll (1977) Steve memperkenalkan Apple ll ini tahun 1977 sebagai komputer pribadi pertama untuk grafis warna

3.  Macintosh (1984) Pada tahun 1984, Macintosh komersial buatan Steve ini mulai dijual dan dimotori oleh Ridley Scott yang merupakan pengusaha kaya pada waktu itu.

4. Apple llC (1984), Untuk Apple llC ini,, Steve Jobs bekerjasama dengan Steve Wonzniak dalam pembuatannya. Diluncurkan 24 April 1984 dan selang beberapa bulan setelah pembuatan Macintosh.

5. Macintosh Portable (1989), Ini merupakan perkembangan dari Macintosh sebelumnya,,
dengan menggunakan layar Portable.

6. Powerbook (1991), Steve berhasil membuat Powerbook pertama didunia. Untuk pengembangannya sekarang berupa Laptop atau Notebook.

7. iMac (1998), Diperkenal kan pertama kali tanggal 7 Mei 1998. iMac ini diplot sebagai inovasi dalam desain komputer pada saat itu.

8. iPod (2001), iPod ini pertama kali dikenalkan tahun 2001. Keberadaan iPod terssebut menjadi awal adanya pemutar media digital.

9. iPhone (2007), iPhone pertama kali dipasarkan tahun 29 Juni 2007 di AS. Ada beberapa genrasi iPhone dalam perkembangannya seperti iPhone 3G, 3GS dan 4.

10. iPad (2010), iPad merupakan gadget terbaru keluaran Apple dan merupakan yang tercanggih. Fungsi utama nya adalah sebagai e-Book Reader dan fungsi lainnya adalah untuk musik, film dan internetan layaknya tablet PC 

Referensi :

http://agniluthfi.com/
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10293381
http://merahitam.com/steve-jobs-meninggal.html

By Kaje Geer Posted in Iptek

Pandangan Hidup Tan Malaka (1948)

Pengantar

Menguak pemikiran Tan Malaka menarik untuk disimak, negara ini amat sedikit melahirkan putra bangsa yang memiliki pemikiran yang luar biasa terhadap perkembangan bangsa dan negara,,, beliau adalah salah satu dari yang amat sedikit itu. Memang dulu sewaktu Orde Baru, Tan Malaka dihujat dan dilupakan, terkadang bangsa ini kurang menghargai konsistensi terhadap anak bangsa yang totalitasnya dalam memikirkan untuk bangsa dan negara ini,, terlepas pemikirannya ada yang mengangap kontroversi atau kekiri-kirian. Bagaimana mungkin seorang seperti Tan Malaka ini bisa sangat mudah dikaburkan segala pemikiran sejarah dan kedudukannya dalam proses panjang sejarah bangsa yang kontribusinya terhadap lahirnya bangsa ini, bahkan kematiannya pun bisa jadi misteri..yang seharusnya tidak boleh terjadi. Di bawah ini sekilas pemikiran atau Pandangan Hidup Tan Malaka.

1. MANUSIA MONYET

Puluhan ribu tahun lalu, dimasa yang masih gelap gulita untuk ingatan kita sekarang, ketika itu mungkin kepulauan Indonesia masih bersatu antara satu dengan lainnya, juga dengan Filipina dan benua Asia  mungkin juga dengan Australia, menurut seorang ahli hiduplah di sini, dekat desa Trinil, makhluk setengah hewan setengah manusia, yang oleh ilmu dinamakan pithecantropus erectus, manusia monyet. Di belahan bumi lain seperi di Tiongkok Utara, Afrika Selatan, serta Eropa Selatan dan Tengah ditemukan juga makhluk semacam itu.

Semenjak Charles Darwin, banyak sekali para ahli biologi (ilmu hayat) mendapatkan pandangan dan kesimpulan baru yang bertentangan dengan kepercayaan yang ditaati oleh agama selama ini tentang asal-usul dan hari akhir manusia di bumi kita yang kecil dan sama sekali tak berarti, kalau dibandingkan dengan besarnya pelbagai bintang di antara jutaan bintang di alam raya kita ini, di universe kita ini.

2. INDONESIA SEDERHANA

Kita kembali kepada alam kita di Indonesia tadi serta kembali mengamati penghuninya! Maka sekarang pun Indonesia masih dapat menyaksikan manusia pada tingkat yang serendah-rendahnya, yang berada di antara jenis hewan yang paling tinggi derajatnya, seperti orang utan, dengan pelbagai penduduk manusia di gunung serta hutan rimba raya Indonesia.

Orang Kubu yang masih berkeliaran di hutan rimba Sumatera Selatan, orang Semang di Malaya dan banyak orang Dayak di hutan Kalimantan seperti banyak orang Irian (Papua) masih bisa mendapatkan semua keperluan hidupnya daripada Alam sekitarnya. Mereka belum lagi terpaksa mengerahkan otaknya dan tenaga untuk bertanam, bertukang atau berdagang, untuk mendapatkan makanan dan pakaian yang diperlukannya atau untuk memperoleh senjata buat membela diri mereka terhadap hewan atau pun manusia buas yang lainnya. Buah dari pohon di berlainan tempat dan musim, binatang liar dan ikan yang terdapat di sana sini cukup untuk menjamin hidup mereka. Kulit dan daun kayu cukup untuk menutupi bagian badan yang perlu mereka tutupi. Dahan, ranting, dan daun kayu yang dibikin seperti sarang, tinggi di atas pohon, cukup pula untuk memberi sekedar perlindungan terhadap hujan, panas dan bahaya musuh.

Gambaran di atas kurang lebih memang masih terdapat pada beberapa bagian di kepulauan Indonesia. Ini saya majukan untuk memberi penjelasan, betapa dekat dan eratnya hubungan alam dan manusia. Alam Indonesia yang kaya raya ini tidaklah mendorong manusianya membanting tulang serta memutar otak terus-menerus untuk mendapatkan makanan dan pakaian serta memperoleh senjata dan perlindungan untuk membela diri terhadap binatang buas atau alam yang kejam. Di mana keadaan alam belum lagi memaksa, maka tenaga, kepandaian dan pengetahuan manusia itu tinggal tetap seperti awalnya. Tetapi dimana keadaan alam dan masyarakatnya mengalami perubahan, disana tenaga dan otak penduduk Indonesia menunjukkan juga kesanggupan penuh terhadap segala macam kemajuan jasmani dan rohani yang dikehendaki oleh alam dan masyarakat yang berubah itu. Sungguh besar perbedaan alam jiwanya orang Indonesia asli, seperti orang Kubu, Semang, Dayak, dan Irian seperti tergambar di atas tadi dengan alam jiwanya seorang Indonesia desa kota seperti tani, buruh, doker, insinyur, atau pengacara. Tetapi dengan tiada sangsi dan bukan pula dengan maksud memuji atau menghina, saya berani mengatakan bahwa orang Dayak atau Irian pun jika berada dalam keadaan sama akan sanggup belajar sampai mencapai apa yang bisa dicapai oleh suku bangsanya yang berada di desa dan kota. Perbedaan orang Indonesia berada dengan yang sederhana (primitif) bukanlah disebabkan oleh perbedaan sifat dan kesanggupan sebagai manusia, melainkan disebabkan oleh perbedaan sekitar dan keadaan. Dengan kata lain, disebabkan oleh kodrat pendorong.

3. ANIMISME.

Rupanya perbedaan alam sekitar kita itulah yang menjadi alat adanya perbedaan Pandangan Hidup (Weltanschauung) Indonesia beradab dengan Indonesia primitif itu. Buat mengerti hal ini, maka sebaiknya sekejap kita mengandaikan berada di tengah-tengah hutan rimba Sumatera, Kalimantan, atau Irian! Bagi penduduk kota, ataupun hampir buat seluruh penduduk pulau Jawa, agak susah mengerti betapa dahsyatnya suasana hutan rimba yang sesungguhnya itu menekan jiwa kita.

Pohon yang besar tinggi menjulang ke angkasa; cuaca yang selalu gelap-gulita karena sang matahari tak sanggup menembus dinding daun kayu yang rindang itu; suara hewan yang mempengaruhi jiwa kita; kecurigaan kepada semua semak dan belukar, karena mungkin menyembunyikan biantang buas atau berbisa, semua itu menimbulkan perasaan kecil, hina tak berdaya sebagai manusia menghadapi kebesaran dan kedahsyatan alam.

Bagi manusia yang sejak awal berpikir, yang sejak awal sekali mencerminkan alam-luar itu kepada alam-dalamnya, kepada jiwanya, cocok benarlah paham bahwa tekanan atas jiwa dalam dirinya disebabkan olah jiwa yang berada di Alam-Luar, yakni yang berada dalam hutan rimba raya itu. Buat pikiran orang serba sederhana itu jiwa cuma bisa dipatahkan karena ditimpa oleh pohon besar. Demikianlah di mata orang sederhana itu, semua benda yang dahsyat di sekitarnya dianggap mengandung jiwa seperti dirinya sendiri. Pohon besar yang rindang dahsyat, air mancur yang bergemuruh; binatang buas yang berbahaya; bahkan batu dan kayu pun dianggapnya berjiwa, bernyawa.

Sesungguhnya anti tesis antara buruk dan baik, yang terpendam dalam pengalamannya sehari-hari belum lagi begitu terpisah dalam pandangannya. orang sederhana memuja bukan yang baik asal baik saja, tetapi juga yang jahat. Mereka memberikan korban kepada keduanya, yang baik maupun yang jahat. Hantu yang jahat tak kurang menerima pujaan atau korban orang sederhana daripada hantu yang baik, yakni hantu kawan manusia. tentulah di mana alam sangat dahsyat di sanalah hantu jahat, harimau si raja hutan atau sang buaya mendapat perhatian lebih dari pada yang baik.

Teranglah sudah bahwa zaman serba permulaan itu pandangan bangsa Indonesia, dalam keadaan serba-serbi itu pula, berdasarkan paham yang oleh para ahli dinamai kepercayaan animisme. Semua yang ada di alam ini dianggapnya berjiwa, bernyawa.

Berkenaan dengan manusia sederhana bangsa kita tadi dengan alamnya di mana mansuia itu berlaku pasif, menerima, bahkan menderita ketakutan saja, di masa inipun berlakulah hukum dialektika, yakni perubahan bilangan sedikit demi sedikit, lama-kelamaan menjadi pertukaran sifat (quantity into quality).

Dalam pencarian hidupnya sehari-hari menghadapi pelbagai bahaya di hutan, di gunung, di air dan menderita bermacam-macam penyakit, lama kelamaan tahu-tahu tertumpahlah segala pengorbanan dan pemujaan kepada salah satu yang paling ditakuti di antara banyak-yang-ditakuti. Di antara macan, buaya, hantu pohon, hantu air, atau hantu pemburu, akhirnya jatuhlah Maha-Pujuaan kepada Maha-Hantu, yang paling penting-cocok dengan penghidupan dan pengalaman sehari-hari. Dimana pencarian dan pekerjaan berburu sangat dipentingkan, maka hantu pemburulah yang sengat dipuja. Di sinilah hantu-pemburu akhirnya mendapat kehormatan sebagai Maha-Hantu.

Dimana pergaulan sudah agak maju, dan alam-sekitar sudah agak ramah-tamah, maka yang baik mendapat perhatian agak lebih dari yang jahat. Konon kabarnya ada satu suku bangsa Irian yang menganggap pohon aren atau enau sebagai Tuhan dalam arti Maha-Dewa. Bukankah pohon aren juga antara segala pohon dan segala yang ada di  alam sekitar mereka yang telah memberikan segala-galanya yang diperlukan buat kehidupan mereka? Sagu dari pohon Aren adalah makanan yang sehat dan mengandung banyak kegunaan. Ijuknya dapat dipakai buat atap rumah. Batangnya bsia juga dipakai sebagai tombak penangkap ikan dan alat membela diri terhadap musuh. Continue reading

By Kaje Geer Posted in Ragam

Halo Dunia!

Selamat Datang di blog kami.

Dalam blog ini kami mencoba membuat sebuah tulisan dengan mengambil tema perspektif. Tulisan tersebut diharapkan akan mendapatkan tanggapan dari para pengunjung dan akhirnya kita saling melengkapi kekurangan dan kelebihan dalam keragaman dan sudut pandang berpikir.

Selama berpuluh-puluh tahun kita sebagai anak bangsa, apalagi ketika jaman orde baru terbelenggu oleh dogma-dogma yang tidak jelas, tetapi dipaksa untuk memahami dan mematuhinya. Ambil contoh semua buku yang berbau komunisme atau Soekarnoisme dilarang dibaca tanpa alasan yang jelas. Mengapa yang berbau liberalisme tidak? Itu yang disajikan dan dipropagandakan di kampus-kampus, sekolah-sekolah melalui penataran-penataran hingga semua pegawai negeri, jika membangkang resikonya dipecat. Maksud penulis baik buruk sebuah ajaran atau isme harus dijelaskan dan diajarkan seobjektif mungkin. Mengapa ekonomi dan stabilitas negara China yang menganut paham komunisme lebih maju ketimbang Indonesia yang bukan komunis. Begitu pula pada liberalisme di mana kelebihan dan kekurangannya. Mengapa ekonomi Jepang, Korea Selatan yang  menganut paham ekonomi liberal lebih maju ketimbang Indonesia? Mengapa bangsa Indonesia yang menganut sistem ekonomi kekeluargaan teringgal?

Kesalahan bangsa kita di mana? Menganut paham ekomi kekeluargaan atau ekonomi keluarga? Jika menganut sistem ekonomi kekeluargaan, coba kita lihat sifat keluarga, karena kata kekeluargaan adalah kata sifat atau dapat dimaknai seperti keluarga. Seorang ayah seperti presiden dalam keluarga tidak merasa rugi memberi nafkah kepada anggota keluarganya. Dalam anggota keluarga ada anak, istri, mertua, pembantu dan sebagainya. Anak dan mertua perlu makan, apalagi jika ada anak bayi, berapa harga susu? Mertua sudah tidak produktif tetap harus makan. Tentu harus kebagian semuanya, bukan? Dalam keluarga seorang ayah sekalipun dia yang paling berjasa tidak merasa rugi.

Berbeda dengan sistem ekonomi keluarga, hanya membangun sistem ekonomi feodalis, apapun hanya untuk keluarga dan kroninya selain keluarga atau keturunannya tidak boleh. Kerajaan bisnis dibangun hanya untuk kepentingankeluarga dan kroninya.

Barangkali pendiri bangsa ini sudah tepat dalam menerapkan sistem ekonomi kekeluargaan di negeri ini, bukan pilihan komunisme dan juga liberalisme, cuma penafsiran oleh penerus bangsa ini yang salah, sistem ekonomi kekeluargaan dipahami menjadi sistem ekonomi keluarga, sehingga seolah-olah negara ini menjadi milik dia, keluarga dan kroninya.

Kepada pembaca, penulis mohon untuk mengoreksi jika sudut pandang penulis ada yang salah.

By Kaje Geer Posted in Prolog